Aku Tak bisa berkata lain
cobecCo - Apa Adanya Saja ! Saya pernah berada di situasi yang sangat canggung. Bukan canggung biasa, tapi canggung yang bikin kita berharap tiba-tiba jadi transparan lalu menghilang dari dunia. Waktu itu, teman saya dengan penuh semangat menunjukkan hasil masakannya. Dengan mata berbinar dia bilang, “Gimana? Enak kan?”
Saya sudah suap satu sendok.
Dan… ya, begitulah.
Di kepala saya ada dua suara. Yang pertama: jujur itu penting. Yang kedua: pertemanan juga penting, apalagi dia yang traktir.
Akhirnya saya bilang, “Unik.”
Itu kata paling aman yang pernah ditemukan manusia.
Kadang hidup memang menempatkan kita di posisi di mana kita tidak bisa berkata lain. Bukan karena tidak punya pendapat, tapi karena realita terlalu… ya, realita. Seperti ketika ditanya, “Udah kaya belum?” Ya jelas belum. Mau jawab apa lagi?
Saya rasa Raditya Dika juga sering bermain di wilayah seperti ini—di antara kejujuran dan kenyataan yang absurd. Karena memang hidup kita sehari-hari seringkali tidak masuk akal, tapi tetap harus dijalani dengan muka serius.
Contohnya, kita tahu rebahan itu tidak produktif. Tapi begitu kasur memanggil, semua teori kesuksesan langsung kalah. Kita tidak bisa berkata lain selain, “Ya sudah, lima menit lagi.” Yang kemudian berubah jadi dua jam.
Atau ketika alarm berbunyi pagi-pagi. Kita sudah niat bangun, olahraga, hidup sehat. Tapi tubuh kita punya pendapat sendiri. Dan akhirnya kita kompromi dengan kehidupan: “Mulai besok aja.”
Aneh ya, kita sering tahu apa yang benar, tapi tetap memilih yang nyaman. Dan di situ, kita tidak bisa berkata lain selain mengakui: kita ini manusia biasa.
Tapi mungkin justru di situlah letak indahnya.
Karena hidup tidak selalu harus sempurna. Tidak semua jawaban harus benar. Kadang, yang penting kita jujur pada diri sendiri—meskipun kejujuran itu bentuknya sederhana, seperti mengakui, “Saya lagi malas.”
Dan itu tidak apa-apa.
Karena dari situ kita belajar. Pelan-pelan. Dengan cara yang kadang tidak elegan, tapi nyata.
Jadi kalau hari ini kamu merasa tidak bisa berkata lain selain “ya sudah lah,” jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Kadang, menerima keadaan juga bagian dari proses.
Dan siapa tahu, dari “ya sudah lah” itu, justru muncul langkah kecil yang akhirnya membawa kita ke sesuatu yang lebih baik.
Walaupun ya… besok aja mulainya.
