Yang penting HP (Heppi)
cobecCO - Apa adanya saja ! Ada satu jenis kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan saldo rekening, jumlah followers, atau jumlah undangan kondangan dalam setahun. Kebahagiaan itu namanya: heppi. Ejaan boleh salah, tapi rasanya benar. Ia seperti gorengan di sore hari—tidak penting sehat atau tidak, yang penting kriuknya sampai ke hati.
Saya pernah bertemu seseorang yang hidupnya sederhana sekali. Bajunya itu-itu saja, sandalnya kalau jalan bunyinya “plek-plek” seperti tepuk tangan kecil yang kesepian. Tapi wajahnya? Selalu seperti baru dapat kabar diskon besar. Ketika saya tanya rahasianya, dia bilang, “Saya ini tidak punya banyak keinginan. Jadi, sedikit saja yang datang, sudah cukup bikin saya heppi.”
Saya terdiam. Ini berbahaya. Kalau semua orang berpikir begitu, industri overthinking bisa bangkrut.
Di zaman sekarang, kita sering diajari cara menjadi sukses, tapi jarang diajari cara menjadi cukup. Kita dikejar target, pencapaian, validasi. Kita mengukur hidup seperti mengukur beras—harus pas, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih. Padahal hidup ini lebih mirip sambal: kadang terlalu pedas, kadang kurang asin, tapi tetap saja dimakan.
Mungkin itu sebabnya saya suka membaca tulisan-tulisan A.S. Laksana. Ada semacam kelegaan di sana—bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan secara serius. Kadang cukup ditertawakan pelan-pelan, seperti kita menertawakan diri sendiri yang lupa menaruh kunci padahal dari tadi digenggam.
Heppi itu sederhana, tapi bukan berarti murahan. Ia tidak selalu datang dari hal besar. Kadang ia muncul ketika hujan turun tepat setelah kita sampai rumah. Atau ketika nasi goreng buatan sendiri ternyata tidak separah yang kita bayangkan.
Tentu saja, hidup tidak selalu ramah. Ada hari-hari ketika segalanya terasa berat, seperti membawa galon tanpa pegangan. Tapi bahkan di situ, ada kemungkinan kecil untuk tersenyum—mungkin karena kita sadar, “Oh, ternyata saya masih kuat juga ya.”
Jadi, kalau hari ini belum berhasil jadi apa-apa, tidak apa-apa. Kalau rencana berantakan, juga tidak apa-apa. Dunia ini tidak sedang menunggu kita menjadi sempurna.
Yang penting, jangan lupa: heppi.

Posting Komentar