Asela, Saya Belajar Mengapa Orang Madura Sulit Melupakan Rasa
CobecCo - Apa Adanya Saja ! Menjelang makan siang, jalanan Madura mulai berubah sibuk. Truk-truk pengangkut barang melintas perlahan. Sepeda motor beriringan memecah panas jalan. Matahari memantul keras dari aspal yang kering. Saya sempat berpikir untuk langsung melanjutkan perjalanan.
Sampai seseorang berkata pendek, “Makan dulu di Asela.”
Kalimat sederhana itu ternyata mengubah siang saya.
Rumah Makan Asela berdiri tanpa banyak usaha untuk terlihat mewah. Tidak ada dekorasi yang terlalu ramai. Tidak ada musik keras. Tetapi justru kesederhanaan itu membuat tempat ini terasa hidup. Orang datang bukan untuk berfoto. Mereka datang untuk makan sungguhan.
Dan itu mulai terasa ketika aroma ayam panggang keluar dari dapur.
Bau arang bercampur bumbu menyeruak sampai ke meja-meja depan. Ada rasa lapar yang tiba-tiba muncul meski sebelumnya saya merasa baik-baik saja. Pelayan datang membawa teh dingin, lalu tak lama kemudian dua menu utama itu hadir di atas meja: ayam panggang dan gurame bakar.
Saya memperhatikan ayam panggangnya lebih dulu.
Kulitnya kecokelatan dengan sedikit bekas bara di beberapa sisi. Tidak terlalu hitam. Tidak terlalu basah oleh bumbu. Tetapi justru terlihat matang dengan cara yang sabar.
Gigitan pertama langsung menjelaskan semuanya.
Daging ayamnya lembut dan hangat sampai ke bagian dalam. Gurihnya tidak berisik, tetapi penuh. Ada rasa manis tipis yang menyatu dengan aroma bakaran. Bumbunya seperti tidak ingin mendominasi. Ia hanya ingin memastikan setiap bagian ayam punya rasa yang cukup untuk dikenang.
Saya belum selesai mengunyah ketika tangan otomatis mengambil nasi lagi.
Lalu gurame bakar mulai mengambil alih perhatian.
Ukurannya besar. Aromanya tajam dan menggoda. Kulit luarnya sedikit renyah, tetapi daging di dalamnya tetap lembut. Yang menarik justru bumbu bakarnya. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, tetapi terasa matang dan kaya rempah.
Saya makan perlahan.
Bukan karena kenyang.
Tetapi karena sayang kalau makan seperti ini dihabiskan terlalu cepat.
Di meja sebelah, seorang sopir travel tampak menambah sambal berkali-kali. Sementara satu keluarga di sudut ruangan sibuk berebut potongan gurame terakhir. Tidak ada yang banyak bicara. Sebagian besar orang di ruangan itu tampaknya sedang menikmati hubungan paling jujur antara manusia dan makanan: diam karena terlalu nikmat.
Dan di situlah saya mengerti sesuatu.
Orang Madura bukan hanya pandai memasak.
Mereka tahu bagaimana membuat rasa tinggal lebih lama di ingatan seseorang.
Karena ketika perjalanan selesai, sering kali yang paling dirindukan bukan tempatnya.
Melainkan aroma ayam panggang dan gurame bakar yang pernah membuat kita lupa waktu di Asela.
Posting Komentar